Tidak adanya latihan fisik atau pembentukan kebiasaan buruk seperti konsumsi tembakau atau alkohol, adalah beberapa penyebab yang paling sering disebutkan ketika kita berbicara tentang kemungkinan faktor-faktor yang membahayakan kita. kesehatan peredaran darah. Namun, ada banyak penelitian yang memperingatkan bahaya lebih besar bagi hati kita.

1

Bekerja dalam shift

Bekerja dalam shift dan dengan jadwal yang tidak teratur memiliki dampak langsung pada perusahaan kami, menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Kanada dan Norwegia. jam internal, yang memiliki efek negatif pada gaya hidup kita, pilar fundamental kesehatan kita secara umum, dan sirkulasi pada khususnya.

2

Ikuti latihan

Melakukan latihan fisik baik untuk jantung, tetapi melakukan itu, atau melakukan kegiatan yang melibatkan upaya yang tidak kita siapkan, juga dapat memiliki konsekuensi negatif bagi jantung kita, meningkatkan, menurut beberapa penelitian, risiko serangan jantung. Hal ini dinyatakan dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan Jerman Pusat Penelitian Kanker Heidelberg Jerman, dan diterbitkan di majalah Hati (2014), setelah mengevaluasi selama sepuluh tahun intensitas dan keteraturan latihan fisik pada lebih dari 1.000 orang.

3

Menopause dini

Menurut sebuah karya observasional peneliti Belanda dari Pusat Medis Universitas Erasmus di Rotterdam (Belanda), dan itu baru saja diterbitkan di majalah Kardiologi JAMA, timbulnya menopause sebelum usia 45 tahun dikaitkan dengan peningkatan risiko kejadian jantung dan harapan hidup yang lebih pendek, dibandingkan dengan wanita yang mencapai menopause pada usia lanjut.

4

Kemacetan lalu lintas

Sebuah karya yang dilakukan oleh sekelompok peneliti Spanyol, dan diterbitkan dalam jurnal Penelitian Lingkungan pada tahun 2014, tercatat bahwa menghabiskan lebih dari satu jam sehari dalam kemacetan sangat meningkatkan risiko masalah kardiovaskular seperti infark miokard atau hipertensi. Penyebabnya ditemukan pada efek negatif dari kebisingan lingkungan untuk kesehatan.

5

Hepatitis C

Ahli dari Universitas Johns Hopkins (AS) diungkapkan dalam investigasi yang dipublikasikan di Jurnal Penyakit Menular (2015) bahwa orang yang terkena virus hepatitis C lebih cenderung menumpuk kalsium abnormal dan plak lemak di pembuluh darah mereka (aterosklerosis), yang meningkatkan risiko penyakit yang memengaruhi kesehatan jantung, karena menjadi stroke atau infark.

6

Tidur nyenyak

Baik secara berlebihan maupun secara default. Sebuah studi di AS yang dipresentasikan pada 2013 mengklaim bahwa tidur kurang dari enam jam sehari meningkatkan risiko tekanan darah tinggi atau obesitas. Tidur lebih dari delapan jam, di sisi lain, juga akan meningkatkan kemungkinan menderita stroke atau jenis stroke lainnya, menurut penyelidikan dari Universitas Cambridge (Britania Raya).

7

Kesepian

Menghabiskan banyak waktu dalam kesendirian bisa berdampak buruk bagi jantung seperti halnya pernikahan yang buruk. Hal ini dikonfirmasi oleh penelitian yang dilakukan oleh para ahli dari British University of York, yang menyimpulkan bahwa orang yang kesepian lebih mungkin menderita penyakit jantung (+ 29%) atau stroke (+ 32%).

8

Tidak bahagia dalam pernikahan

Menurut penyelidikan yang dilakukan oleh Universitas Michigan (AS), orang tua yang bahagia dalam pernikahan mereka memiliki kemungkinan lebih kecil untuk menderita penyakit jantung daripada mereka yang tidak. Penelitian ini, pada saat yang sama, menemukan perbedaan antara wanita dan pria, sejak pernikahan pertama yang tidak bahagia lebih memengaruhi mereka dalam hal kesehatan jantung.

9

Masalah gigi

Sebuah studi yang dipresentasikan dalam Kongres Asosiasi Jantung Amerika (AHA) pada tahun 2011 ia memperingatkan bahwa kebersihan gigi yang baik dapat mengurangi kemungkinan menderita infark miokard hingga 24%, dan stroke hingga 13%. Ini bukan satu - satunya penyelidikan dalam hal ini, karena pada tahun 2004 studi lain dilakukan oleh Akademi Americana dari Kedokteran Gigi Umum Ini menghubungkan peradangan gusi dengan peningkatan kemungkinan infark.

10

Terlalu banyak televisi

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh para ilmuwan dari Universitas HarvardMenonton televisi selama lebih dari dua jam sehari terkait dengan peningkatan 15% dalam kemungkinan mengembangkan penyakit kardiovaskular, serta peningkatan 20% dalam risiko diabetes.

Inilah yang sebenarnya dirasakan bayi dalam kandungan ketika ibunya menangis (November 2019).